Skip to content

Televisi Indonesia yang (belum) Bermutu

June 29, 2006

Artikel yang ditulis oleh Pakde Totot ini memang sudah agak lama (Juni 2002) tetapi rasanya kok tetap relevan dengan keadaan pertelevisian Indonesia saat ini. Perbedaan utamanya adalah pada jaman 2006 mulai kreatif dengan menambahkan infotainment, yang (sayangnya) tidak lebih baik.

Insiatif memperbaiki keadaan semestinya datang dari stasiun televisi. Argumen bahwa “penonton memang menyukai acara seperti itu” adalah justifikasi klise. Bagaimana penonton bisa menyukai acara yang lebihbaik jika stasiun televisi tidak pernah mendidik penonton dan memberialternatif tontonan bermutu? Sejak dulu prime time kebanyakan diisi sinetron yang temanya itu-itu saja dan ceritanya berputar dari situ ke situ saja, termasuk karya jiplakan.

Paling setuju dengan paragraf terakhirnya:

Intinya, jangan sekali-sekali meremehkan televisi. Potensinya untuk“mendidik” atau “menghancurkan” jauh lebih dahsyat dibanding mediamassa yang lain.

Apa yang keluar pastilah datang dari apa yang masuk. Input produces output. Televisi sudah pasti masuk dalam kehidupan bangsa Indonesia, yang keluar?

Baca Selengkapnya: Ketika Rating Menjadi Tuhan [ Totot Indrarto ]

4 Comments
  1. Setuju boss :) televisi sux..

  2. noize permalink

    bagaimana dgn tulisan saya…. tolong dibuka manual, krn saya belum bisa menge-link-kannya langsung dari box comment ini. terima kasih.

  3. Sebelum mencoba untuk mengevaluasi TV, I think it’s a good idea to consider what TV actually is.

    Potensi TV untuk mendidik/informasi cuman attribut tambahan…at least pada zaman skr. TV at heart, is a commercial beast. Stasiun2 TV (klo non-cable TV) dapet main incomenya dari iklan…sedangkan klo Cable-TV, income utamanya dari subscription pelanggan. Lalu dimana pendidikan bisa comes in….which is non-attractive.

    Pernah denger org mau nonton TV krn pingin belajar?

    Thus…argument untuk membuat TV lebih menarik dengan adanya infotainment…is a really bad one.
    Information/Education can only be entertaining cuman klo education level pemirsanya sendiri sudah baik. Klo TV mencoba lebih “pintar” daripada penontonnya…ya jadinya ga ada yg nonton.

    What’s on TV reflects how the audience really is. Mungkin effect sebaliknya ada…tapi i think it’s secondary. Misalnya klo film sinetron yg dianggap menarik lalu ditambahin bumbu2 sex bebas/kekerasan yg lebih laghi…mau gak mau audience kena effect…tapi at the first place…ada something yg udah menarik audiencenya…which is sinetronnya sendiri…

    Skr problemnya di Indonesia gap antara masyarakat intellectual en yg belum terdidik sangat besar. Pemirsa Indonesia yg nulis blog…ada jamninan pasti terdidik…jadi comment yg terdengar selalu about how boring/ga bermutunya TV di indonesia.

    Which is probably not so bad dimata masyarakat menengah kebawah…yg hampir 50% dari total populasi di Indonesia.

    Mau Televisi di Indonesia lebih menarik? Bikin masyarakat Indonesia lebih terdidik secara universal….jadi klo di TV ada sinetron yg “membosankan”…lebih dari 75% penduduk indonesia ga mau nonton…not so long after…pasti rumah2 produksi sinetron meningkatkan mutu.

  4. Semuanya back to business yah. Urusan uang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: