Skip to content

Fenomena Berkurangnya Toleransi

March 26, 2008

Banyaknya comment dalam posting Bapak Budi Rahardjo yang menyetujui adanya sensor internet membuat saya berpikir. Apakah toleransi di Indonesia perlahan-lahan berkurang? Toleransi yang saya maksudkan dalam hal ini bukanlah toleransi beragama ataupun rasial. Melainkan toleransi seseorang terhadap cara orang lain menjalankan hidupnya.

Ada banyak alasan bagi orang-orang untuk mendukung sensor pornografi dari Internet. Tetapi kebanyakan dari mereka lupa bahwa ada pula orang yang menikmati pornografi dengan bertanggung jawab. Mereka yang tidak membuka dan membicarakan pornografi secara bebas di tempat umum. Mereka yang hanya memanfaatkannya di lingkup ruang privat. Apakah tidak ada toleransi terhadap mereka?

Contoh yang lain adalah pada masa pembahasan RUU APP (ah saya tidak tahu statusnya bagaimana sekarang, tidak banyak mengikuti berita). Banyak sekali orang yang berpendapat bahwa adalah sah untuk menghukumkan cara berpakaian seseorang. Bukankah hal ini adalah sikap pemaksaan kehendak. Mereka memaksakan kehendak mereka agar orang lain wajib berpakaian sesuai dengan apa yang mereka anggap layak. Apakah mereka tidak toleran terhadap selera fashion orang lain?

Berkurangnya toleransi adalah suatu fenomena yang berbahaya bagi masyarakat kita. Dengan banyaknya penduduk dan luasnya wilayah Indonesia, pasti bervariasi pula cara pandangan setiap orang akan cara menjalankan hidupnya. Toleransi yang baik sangat dibutuhkan. Bila tidak ada toleransi, kita akan sulit untuk maju ke depan karena akan lebih sering berdebat akan hal-hal yang in the grand scheme of things, kurang relevan.

Saya pribadi tidak berharap banyak selain dipikirkannya pilihan yang wajar bagi pihak lainnya. Dalam topik pornografi, bukannya memberengus tuntas tetapi mengatur distribusinya. Mereka yang menentang pornografi, tidak harus membeli/mengakses ataupun dipaksa melihat. Sementara bagi mereka yang ingin, dapat mencarinya melalui jalur distribusi resmi. Nantinya distribusi tersebut bisa digabungkan dengan pengaturan yang bertoleransi. Yang lebih penting adalah pilihan mereka tidak dihilangkan seluruhnya.

From → Indonesiana, Personal

9 Comments
  1. Saya pikir ini nggak ada hubungannya dengan toleransi. Tapi saya setuju kalau dibilang bahwa energi kita sebaiknya disalurkan ke hal-hal lain yang lebih penting daripada mengurusi masalah ini…

  2. Pendapat saya kok malahan sebaliknya lho mas. Menurut saya, banyaknya tentangan terhadap maraknya peredaran pornografi malahan menunjukkan sikap toleransi yang semakin tinggi di kalangan masyarakat. Bayangkan saja, jika kita melihat seorang anak usia 12 tahun membuka situs porno di sebelah kita di warnet dan itu kita biarkan, itulah yang kurang toleransinya. Yaitu toleransi menyelamatkan masa depan si anak.

    Tidak ada larangan sebenarnya untuk orang melihat situs porno dan menikmati pornografi, asalkan syarat utamanya terpenuhi yaitu berusia di atas 18 tahun, dan tidak merugikan orang lain di sekitarnya. Namun, ekses pornografi yang ditakutkan sebenarnya yaitu ekses yang melanda anak-anak usia belasan tahun yang rasa ingin tahunya masih besar dan belum bisa menggunakan akal fikiran dengan benar, serta penghormatan yang masih rendah terhadap alat reproduksi. Ini akan berdampak ke ekses-ekses yang lainnya yang jauh lebih menakutkan.

    Saya sangat menentang RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi. Tapi saya sangat mendukung pemblokiran situs porno oleh pemerintah. Kenapa? karena itu adalah dua hal yang berbeda. RUU APP tersebut memang keterlaluan karena skalanya sangat luas dan main hantam kromo serta sulitnya menyatukan persepsi dan yang terpenting ada sanksi hukumnya. RUU ini menurut saya akan berpotensi merugikan banyak pihak. Sedangkan pemblokiran situs porno itu hanyalah sebuah langkah kecil untuk mengurangi pornografi dan tidak akan merugikan siapapun, kecuali merugikan orang-orang yang sudah kecanduan pornografi.

    Masalah akan merembetnya aturan ini ke pembredelan kebebasan berpendapat, kebebasan berpolitik, dan segala macamnya itu hanyalah alasan yang sengaja dibesar-besarkan. Saya setuju dengan mas untuk tidak memberangus total tapi mengatur distribusinya. Pemblokiran situs porno bukanlah pemberangusan total menurut saya tapi lebih tepat disebut sebagai pengendali distribusi situs porno ke tangan orang-orang yang berhak dan menginginkannya, dan menghindarkannya dari jangkauan anak-anak yang belum cukup umur.

  3. @Rafiki RS:
    Membiarkan anak kecil mengakses internet itu sikap over-toleran atau tidak perduli? Saya rasa lebih ke sikap tidak perduli. Dalam menghadapai ekses pornografi saya setuju bahwa pronografi tidak boleh dibebaskan seluruhnya, tetapi dibuat pengaturan distribusinya.

    Saat ini larangan memang tidak ada (lebih tepatnya tidak jelas?) namun wacana sensor/pemblokiran itulah yang bagi saya merupakan cerminan hilangnya toleransi. Karena memaksakan suati kehendak tertentu kepada orang lain.

    Menurut saya Internet seharusnya tetap bebas, seperti yang seharusnya. Tetapi untuk mencegah mereka yang belum sepantasnya melihat hal tersebut, dapat ditambahkan opsi pemblokiran bagi yang menginginkan (jika di rumah ada anak di bawah umur) dan hukum wajib pemblokiran bagi akses internet di tempat publik (warnet).

  4. Kalau sekarang akses ke situs pornografi dilarang, dimasa depan akses ke situs lawan politik juga bisa dilarang. Ini pentingnya “free speech”.

    Salam. [TH].

  5. toleransi itu bukan membiarkan, toleransi itu mendewasakan. Itu yang saya tangkap dari tulisan Rendy. Kalau negara menjadi polisi yang mengatur semuanya ia akan menjadi seperti “nanny state’ alias membuat rakyatnya enggak jadi makin progresive. Jika kontrol itu dari masyarakat (ulama, etika, sekolah, guru dan pembelajaran sistem) saya kira kita akan jadi lebih baik.

  6. ..Melainkan toleransi seseorang terhadap cara orang lain menjalankan hidupnya..

    Hmm… Menurut saya, ada hal ynag perlu di toleransi dan ada hal yang tidak perlu di toleransi. Contohnya ada negara yang memperbolehkan beredarnya secara luas film porno, minuman keras (walaupun dengan batasan tertetu) bahkan sampai men-toleransi hubungan sesama jenis. Disini perlu ada pihak 3 yang adil dan mengatur batasan2 hal2 yang perlu ditoleransi dan tidak perlu ditoleransi. Ini tidak lain dan tidak bukan untuk kebaikan bersama. Klo pemerintah tidak membatasi, ntar muncul komunitas yg aneh2 deh…Mereka akan beranggapan “ini jalan hidup mereka” ex: kelompok pecinta pornografi, nudist, kumpul kebo, sex party, hubungan sejenis dll

  7. @Hardjono, hehehe…nggak misleading nih mas?

  8. Juga sudah dibahas di blog saya :

    Bener banget, yang ngeselin itu adalah saat pemerintah merasa paling tahu apa yang cocok untuk warganya, dan melarang apa yang tidak cocok untuk warganya. Masalah internet itu ruang publik, ya jelas salah. Kalo komputernya ditaruh di kamar tidur, apa itu ruang publik? Nah kalo blokir situs porno di warnet, saya setuju banget.

    Kalo yang di kamar tidur itu biar orang tua dan suami istri yang meng-admin-i komputernya.

    Ingat, demokrasi itu menghargai pilihan seseorang. Kalau begini terus (otoriterisasi pilihan), rakyat tanpa sadar diarahkan untuk memilih satu jawaban sebagai jawaban dari semua masalah. Intinya, balik lagi ke orde baru!

  9. @kucing:
    Bila suatu saat komunitas tersebut muncul, biarlah mereka muncul. Keputusan pribadi mereka toh. Tentu saja tindakan mereka di ruang publik tidak menganggu orang lain dan dalam batas-batas kewajaran. Sex Party, kalau pesertanya memang saling kenal, cukup usia dan dilakukan di tempat privat, mengapa tidak. Anda tidak dipaksa ikut mereka kan?

    @gagahput3ra:
    Setuju dengan anda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: